Gaun Terakhir
"Gaunnya bagus! Ara suka!" Ucap Ara yang masih berumur lima tahun sambil tersenyum senang ketika menerima bingkisan yang berisi gaun dari ayahnya. Ayahnya juga ikut tersenyum dan mengusap kepalanya pelan. Saking senangnya, Ara langsung mengganti bajunya dan mencoba gaun tersebut.
"Ara kayak princess kan yah?" Tanya Ara kepada ayahnya.
"Iya, Ara mirip seperti princess " balas ayahnya.
"Seperti Princess Cinderella ?" Ayahnya mengangguk. "Nanti, ayah harus datang ke ulang tahun Ara ya." Sambung Ara, dengan mata penuh harap dia menunggu jawaban dari ayahnya. Ketika ayahnya berkata 'iya' Ara merasa itu adalah hari terbaik seumur hidupnya.
Beberapa tahun pun berlalu, sekarang Ara sedang menikmati angin malam di roof top apartment nya. Sambil memerhatikan kendaraan berlalu lalang, gedung-gedung pencakar langit, lampu-lampu jalanan, dan langit malam yang penuh dengan bintang. Dengan membawa sebuah kantung, Ara melihat lagi suasana malam di tempat ia tinggal. Menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan. Pandangannya kosong melihat jalanan serta kendaraan yang berlalu lalang di bawahnya. Lalu dia mengalihkan pandangannya ke dalam kantung yang ia bawa. Dia tersenyum kecut, menahan sesuatu yang tertahan disana. Gaun sialan. Umpatnya dalam hati. Kepalanya menengadah, berusaha keras agar 'sesuatu' itu tidak keluar. Dia menghela nafas lelah. Lalu melihat lagi jalanan yang ada di bawahnya. Muncul pikiran apa yang akan terjadi jika dia turun kesana? Sesakit apa rasanya? Lalu dia alihkan pandangannya pada kantung yang ia bawa.
Di tengah suasana menenangkan malam itu, Ara memejamkan mata dan meyakinkan diri. Melangkah ke depan dan merasakan tubuhnya turun perlahan. Sambil tetap memejamkan mata, dia merasakan sesuatu keluar dari matanya. Menangis dalam diam, berteriak di dalam hatinya.
"Jika ayah tidak bisa menemui aku, biar aku yang menemui ayah."
"Ara kayak princess kan yah?" Tanya Ara kepada ayahnya.
"Iya, Ara mirip seperti princess " balas ayahnya.
"Seperti Princess Cinderella ?" Ayahnya mengangguk. "Nanti, ayah harus datang ke ulang tahun Ara ya." Sambung Ara, dengan mata penuh harap dia menunggu jawaban dari ayahnya. Ketika ayahnya berkata 'iya' Ara merasa itu adalah hari terbaik seumur hidupnya.
Beberapa tahun pun berlalu, sekarang Ara sedang menikmati angin malam di roof top apartment nya. Sambil memerhatikan kendaraan berlalu lalang, gedung-gedung pencakar langit, lampu-lampu jalanan, dan langit malam yang penuh dengan bintang. Dengan membawa sebuah kantung, Ara melihat lagi suasana malam di tempat ia tinggal. Menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan. Pandangannya kosong melihat jalanan serta kendaraan yang berlalu lalang di bawahnya. Lalu dia mengalihkan pandangannya ke dalam kantung yang ia bawa. Dia tersenyum kecut, menahan sesuatu yang tertahan disana. Gaun sialan. Umpatnya dalam hati. Kepalanya menengadah, berusaha keras agar 'sesuatu' itu tidak keluar. Dia menghela nafas lelah. Lalu melihat lagi jalanan yang ada di bawahnya. Muncul pikiran apa yang akan terjadi jika dia turun kesana? Sesakit apa rasanya? Lalu dia alihkan pandangannya pada kantung yang ia bawa.
Di tengah suasana menenangkan malam itu, Ara memejamkan mata dan meyakinkan diri. Melangkah ke depan dan merasakan tubuhnya turun perlahan. Sambil tetap memejamkan mata, dia merasakan sesuatu keluar dari matanya. Menangis dalam diam, berteriak di dalam hatinya.
"Jika ayah tidak bisa menemui aku, biar aku yang menemui ayah."
Komentar
Posting Komentar