Who Am I | Prolog
Putih.
Hal yang pertama kali aku lihat adalah ruangan serba putih, aku melihat sekitarku dan mulai duduk di tempat aku berbaring? Tunggu. Sejak kapan aku berbaring? Dimana aku? Aku terdiam sejenak dan mencoba mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Bukannya mengingat, kepalaku malah terasa sakit sekali, rasanya seperti ada yang menghantam kepalaku dengan keras dan rasanya ngilu.
Hal yang pertama kali aku lihat adalah ruangan serba putih, aku melihat sekitarku dan mulai duduk di tempat aku berbaring? Tunggu. Sejak kapan aku berbaring? Dimana aku? Aku terdiam sejenak dan mencoba mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Bukannya mengingat, kepalaku malah terasa sakit sekali, rasanya seperti ada yang menghantam kepalaku dengan keras dan rasanya ngilu.
Akhirnya, aku menyerah. Aku menghela nafas dan melihat sekeliling, tidak ada yang menarik disini. Aku memberanikan diri untuk turun dari tempat aku berbaring, aku merasa aneh. Kenapa aku tidak memakai alas kaki? Lagi, kepalaku ngilu. Aku menarik nafas dan mulai berjalan.
Perlahan aku mulai memasuki lorong demi lorong yang ada di sini. Aku merasa seperti terjebak dalam labirin. Bedanya di sini serba putih bukan serba hijau, karena lelah tidak menemukan apapun aku bersandar sejenak
Tiba-tiba, semua ruangan ini berubah menjadi ruangan yang penuh dengan cermin. Aku bisa melihat diriku. Aku memakai gaun putih yang panjangnya sampai lutut, lengannya hanya sampai siku, rambutku pirang, wajahku tirus, kulitku putih pucat.
Sebenarnya aku ada dimana?
Bagaimana aku bisa disini?
Dan yang terpenting
Siapa aku?
Tiba-tiba, ada cahaya menyilaukan yang langsung menusuk mataku. Refleks aku menutup mata
"Bukan begitu caranya"
Aku mengernyit, kenapa ada seseorang yang bilang begitu? Memang aku sedang apa?
"Lalu bagaimana? Kau bilang terserah padaku!"
Perlahan aku membuka mata.
Tadi aku di ruangan yang serba putih dan sekarang aku ada di tempat gelap? HEI SESEORANG ADA YANG BISA JELASKAN?
"Kalau begini caranya, kau tidak akan menemukan bagian terbaik"
Daripada penasaran, aku mulai mengikuti arah suara ini. Yah cukup mudah karena ruangan gelap ini tidak seluas ruangan putih tadi
Tapi sebentar, aku merasa ada
yang aneh
Kenapa aku merasa ringan ya?
Aku melihat ke bawah dan terkejut
AKU MELAYANG?
KAKIKU TAK MENYENTUH LANTAI
SAMA SEKALI?!
WHAT THE HELL?!
Aku berhenti sejenak. Apa ini Lucid Dream? Orang bilang jika kita
bermimpi melayang berarti sedang mengalami lucid
dream. Daripada itu, aku merasa lebih aneh lagi Kenapa di lantai ini penuh
dengan warna merah?
"Bagian
terbaik? Maksudmu?"
Suara itu menyadarkanku untuk
menelusuri lorong ini
"Kau akan tahu jika menggunakan senjata tumpul. Sudah
cepat bawa kepalanya dan kita pergi darisini"
KEPALA? APA KEPALA SIAPA?
"Lalu kulitnya?"
"Aku tidak butuh itu, tinggalkan saja."
"Baiklah"
SEBENTAR? MEREKA MEMBICARAKAN
KULIT? KEPALA? Mereka sedang menyembelih domba?
Brak
Aku menoleh ke kanan dan melihat
seseorang berambut coklat sebahu sedang menenteng kepala yang mempunyai rambut?
Sejak kapan domba memiliki rambut? Dan kulihat wanita sebelahnya yang memiliki
rambut hitam panjang di ikat ponytail. Kulitnya putih, matanya sipit.
Sepertinya dia orang Asia? Mereka berdua memakai jaket kulit hitam dan celana
skiny hitam. Semuanya serba hitam dan di jaket mereka -sebelah kanan, terdapat
tulisan 'Scandal Heaven'
"Flo, kenapa kau hanya membutuhkan kepalanya?"
Wanita yang berambut coklat sebahu bertanya. Orang yang di panggil Flo -yang di ikat ponytail, hanya diam tak menjawab
"Padahal kulitnya bagus untuk di jadikan karya senimu yang lain,"
Lagi wanita itu berbicara dan
Flo tidak menjawab, "Apa karena kulitnya putih sepertimu? Jadi kau tidak
tertarik?"
Flo berhenti sejenak dan
melihat sekeliling. Matanya yang sipit nan tajam mampu membuat aku takut, apa
dia sadar akan kehadiranku?
"Ada ap-"
"Diam atau kupotong lidahmu!" ancam Flo sambil menatap tajam wanita yang berambut cokelat.
Setelah itu, Flo berjalan kembali dan wanita tadi diam, mungkin dia takut lidahnya akan di potong? Entahlah yang jelas aku bersyukur dia tak melihatku yang sedang bersembunyi dekat lemari. Mereka berjalan keluar dengan keadaan diam. Aku yang masih penasaran mengikuti mereka sampai keluar ruangan.
Aku melihat sekeliling saat di luar. Sepertinya aku berada di belakang ruangan yang tadi atau lebih tepatnya belakang rumah tadi? Entahlah aku bingung.
"Bex, kau duluan saja." ucap Flo
"Apa kau bercanda?"
"Apa aku terlihat bercanda? Sudah sana, ancamanku yang tadi masih berlaku"
Bex hanya memutar bola matanya
malas. "Sebelum kau potong lidahku, aku sudah memotong tanganmu"
"Tangan kananku tidak bisa kau potong."
"Baiklah, aku duluan. Jangan hubungi aku jika kau tak bisa ke markas!"
Flo hanya mengangkat bahu acuh, akhirnya wanita tadi -Bex meninggalkan Flo di sini sendirian. Err tidak sendirian sih, aku juga masih menemaninya
"Bicaralah, aku tahu kau mengikutiku"
Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, dia berbicara pada siapa?
"Aku bicara padamu"
Aku terkejut, apa dia bisa mendengar pikiranku?
"Iya"
Iya? Iya untuk apa? Apanya yang iya? Aku semakin bingung apa dia gila?
"Kau?! How dare u call me crazy!" seketika dia berbalik dan menatapku tersinggung
"Apa kau bisa melihatku?" Tanyaku padanya
"Aku bisa merasakanmu saat kau datang" jawabnya. "Siapa kau?" tanyanya
"Aku? Aku tidak tahu." jawabku pelan
"Kau pasti arwah penasaran" ucapnya
"Aku ini hantu?"
tanyaku kaget
Dia terkekeh. "Dasar bodoh, kau bukan hantu. Kalau hantu itu artinya kau sudah meninggal."
"Jadi aku belum meninggal?"
"Lebih tepatnya sekarat. Untuk apa kau mengikutiku?"
"Kenapa kau bisa melihatku?" aku tidak menjawab pertanyaannya.
"Anggap saja aku istimewa"
Istimewa katanya? Aku menanggapinya dengan muka datar
"Jadi?"
"Apa?" aku bertanya bingung, dia ini kenapa sih?
"Kau belum menjawab pertanyaanku." dia terlihat kesal
"Apa aku boleh ikut denganmu? Mungkin aku bisa membantu." Dibandingkan menjawab pertanyaannya lebih baik aku alohkan saja pembicaraan ini. Toh aku sendiri pun masih bingung kenapa aku bisa berakhir seperti ini.
Dia berpikir sejenak, dan tertawa mengejek. "Memang apa yang bisa di lakukan arwah penasaran sepertimu? Yang tidak tahu dirinya sendiri"
"Aku tidak terlihat!" jawabku penuh percaya diri. Dia mendecih meremehkan aku. Entah kenapa dalam sepersekian detik aku merasa tidak asing dengan raut emosinya yang seperti itu.
"Lalu apa untungnya bagiku?" tanyanya tidak peduli.
"Aku, tidak akan membocorkan kejahatanmu pada polisi!" ucapku yakin. Dia malah tertawa keras dan membuatku merinding setengah mati. Aneh harusnya dia kan yang takut denganku? Kenapa aku yang takut padanya?
"Aku pergi, kau jangan ikuti aku!" ucapnya dan langsung berjalan ke arah barat
"Lalu aku bagaimana?"
Dia hanya mengacungkan jari tengahnya padaku. Oh shit inginku gigit lehernya. Tunggu, aku kan bukan vampire. Ok jadi apa yang akan aku lakukan disini? Daripada bingung, aku memutuskan untuk pergi berlawanan arah dengan wanita tadi. Baru juga aku melangkah, ada cahaya lagi yang menusuk mataku.
Dan
Akhirnya
Aku
Kembali
Di ruangan penuh dengan cermin
Lagi
AAARRGGGHHHHH APA INI?!
Sementara itu
Bruk
Aku langsung melemparkan diriku
ke kasur begitu sampai kamar. Kupejamkan mataku, malam ini aku merasa lelah.
Tiba-tiba aku teringat dengan arwah penasaran tadi, wajahnya tidak asing aku
seperti mengenalnya.
Aku membuka mataku dan
terduduk, memikirkan wanita tadi -maksudku arwah penasaran. Kenapa setelah
sekian lama aku bisa melihat? Padahal semenjak kecelakaan itu aku sudah tenang
tidak melihat hal seperti itu.
Di pikir-pikir sudah lama juga
aku tidak mengunjungi rumahku di sini. Aku melihat sekeliling kamarku yang
bernuansa biru muda dengan paduan warna granola, -sejenis warna cream. Well
tidak ada yang berubah, masih sama. Yang berubah adalah suasana di rumah ini
begitu sunyi. Mataku terhenti ketika melihat pigura foto yang berada di meja
belajar.
Aku berjalan kesana dan meraih
foto itu serta melihatnya. Di foto ini aku masih berusia 14 tahun, aku memakai
sweater warna cokelat ke-orenan sama seperti teman yang ada di sampingku.
Rambutku di gerai karena belum sepanjang sekarang, aku tersenyum di sana.
Lalu kulihat foto temanku yang
bedanya dia memiliki rambut pirang keriting gantung, ekspresinya sedang
melihatku dengan kedua tangannya di simpan di dagu. Seperti tatapan 'eww,
kau sedang apa, dengan senyuman seperti itu?' aku terkekeh.
Bagaimana ya kabarnya dia? Kapan ya terakhir kali kita
bertemu?
JITS
Aarghhhh
Tiba-tiba kepalaku sakit sekali
seperti ada yang menghantam dengan palu godam. Aku terduduk untuk meredam rasa
sakitnya. Setelah mereda, aku bersender pada kursi dan menatap langit-langit
kamarku. Apa ini? Seperti ada yang hilang dari ingatanku tapi aku tak yakin,
sudahlah masa bodoh aku ingin istirahat saja.
Aku beranjak ke kasur dan langsung terlelap, hari ini aku
benar-benar merasa lelah.
Chapter 1 - Kepingan Puzzle
Senin, 9 Juli 2018
21.34 WIB
-Afz
Waah pantunnya indah sekali kakak��
BalasHapusMantap ka
BalasHapus